Ughh… kamu selalu begitu,”rutuk seorang kawan. Kamu memakai ukuran dan standardmu sendiri untuk segala hal. Mbok ya kamu belajar dari tukang jahit!” Hmmm… tampaknya dia sedang lupa ingatan. Apa hubungannya sikap saya dengan tukang jahit? Belum selesai saya mencerna kalimatnya yang membingungkan itu, dia melanjutkan penjelasannya. “ ketika kamu datang ke tukang jahit, kamu pasti akan diukur terlebih dahulu. Semua orang diukur tanpa kecuali. Tidak ada ukuran all size yang bisa dipakai untuk semua orang. Tiap orang unik, khas, dan tidak bisa disamakan dengan orang lain.,” tuturnya lancar. “Coba tempatkan diri sebagai tukang jahit. Lihat semua persoalan baik-baik sebelum menilai salah atau benar. Kenali dulu orang lain daripada langsung mengatakan mereka baik atau buruk. Bajumu belum tentu pas bagi orang lain.”
Sindiran kawan di atas sangat tepat. Sadar atau tidak, sering kita menilai semua hal seperti ukuran diri kita sendiri. Kalau tidak sesuai, mudah sekali menyalahkan orang lain. Padahal, sangatlah mungkin ukuran yang kita percayai tak selamanya tepat.
Filosofi sang tukang jahit sangat sederhana. Mengukur setiap orang sesuai ukurannya masing-masing, dan tidak sok tahu mengetahui ukuran orang lain meski sudah sangat berpengalaman soal ukur-mengukur. Namun, jika diterapkan, memunculkan sejumlah konsekuensi yang tak mudah diterima. Entah itu kesediaan menurunkan standard, kesabaran berproses, atau bahkan menerima kebenaran orang lain. Tidak mudah bukan?
10 Mei 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)




Wah, keren juga tuh filosofinya.
BalasHapusBdw, itu karangan kamu?
Yup, berasal dari kekesalanku kepada orang-orang yang selalu menuntutku untuk menjadi orang yg mereka inginkan. Dan orang-orang yg membeda-bedakan kemampuan dan fisik ku.
BalasHapusBukankah setiap orang itu berbeda?
Jiah, jadi curhat:-D
Tapi tata bahasanya di bantuin teman:">